Thursday, February 2, 2012
Janji
Jadi dia sudah tidak ada?
Kalau saja kata-kata itu terucap, ya. Yang jadi masalah, lidahku masih kelu meskipun otak telah memerintah. Terlalu syok, bisa dibilang begitu. Mungkin penampilanku saat ini terlihat sangat konyol--penuh keringat, dengan pakaian rapi khas seseorang yang baru menyelesaikan kelasnya di kampus dan langsung melarikan dirinya sendiri ke tempat yang disebut oleh seseorang di balik telepon. Informasi yang salah tempat.
Jujur aku masih lelah--hari ini ada tiga kelas yang masing-masing memakan tiga SKS. Artinya aku sudah berada di kampus dari pagi sampai sore. Tapi telepon yang aku terima barusan tak bisa diabaikan. Sama sekali tak bisa, bahkan membuatku berlari meski tenaga yang belum diganti makan siang tidak kumiliki. Sebagai lelaki aku masih punya cadangan tenaga kan? Masa cengeng?
Tapi terlambat.
Secepat apapun kakiku berlari, angin tetap tak akan tertangkap. Sama seperti sang penyabut nyawa.
Kenapa?
_____
"Aku benci kamu, tahu?"
"Tahu."
"Terus kenapa kamu masih di sini?"
"Karena aku suka kamu, tahu?"
"..."
Dia tidak menjawab, membuat senyum kemenangan terhadir di bibirku. Yah, bagaimanapun juga aku terlalu tampan untuk ditolak terus, kan? Hahaha.
Ia melengos sambil mendorong laptopnya, terlihat sebal dengan pertanyaan balasanku barusan. Aku sendiri nyengir, membiarkannya melipat dua lengan di depan dada. "Kenapa sih kamu ngotot sekali?"
Aku angkat bahu. "Karena kamu juga ngotot."
Dua alisnya mengkerut. "Terus kenapa aku?"
Kali ini ganti aku yang melengos. Sudah berapa kali aku mendapat pertanyaan ini, masalahnya. "Karena kamu itu kamu, Anya."
"Itu kamu tahu," gadis itu memandangku sebal. Dibereskannya buku-buku di atas meja sebelum ia beranjak, kesal. "Aku cuma aku, Arza. Carilah perempuan lain."
_____
Kutatap pintu yang kini terbuka. Beberapa temannya yang kukenal berurai air mata. Aku tak bisa berkata apa-apa saat Ryan, pacar dari salah satu kawannya sekaligus teman baikku, menepuk pundakku iba.
"Sabar ya, Za."
Sabar?
Sabar kepalamu.
"Padahal... padahal tadi pagi dia ga apa-apa," kekasih Ryan, Yasmin, kembali terisak sebelum bahunya ditepuk-tepuk Ryan. Aku terdiam. Ya, aku tahu pasti dia tadi pagi tidak kenapa-kenapa. Tadi pagi dia masih ada, masih bersamaku, masih melempar senyum padaku. Tapi sekarang, katanya dia sudah tidak ada? Tidak ada bagaimana?
Aku memandang lurus pintu yang tadi mereka lewati, tatapanku kosong. Berharap tiba-tiba dia keluar dan bilang, 'surprise!' seperti saat ulang tahunku minggu lalu. Tapi tak ada apa-apa, tak ada sosoknya yang penuh senyum menyambutku dalam peluk. Hanya ada beberapa sosok suster dan perawat laki-laki (aku tak tahu apa sebutannya) yang mendorong sebuah tempat tidur dengan sosok tertutup kain putih sampai kepala terbaring di atasnya. Orang yang selamanya tak akan pernah kembali.
Dan kali ini aku yang gantian merasa lemas. Lemas sampai kakiku tak bisa diajak berkompromi. Aku terduduk di tempat kemudian, menimbulkan bunyi debam menyakitkan. Ryan yang ada di sebelahku buru-buru mendudukkan dirinya, memasang wajah khawatir. Kontradiksi, Yasmin menangis makin keras.
____
"Apa? Anya--Anya kenapa?"
"Anya tadi pingsan, Za! Kamu buruan ke sana, cepat!"
Aku panik. Yasmin yang memberi tahuku tampak jauh lebih panik. Cepat-cepat kuraih tasku yang lumayan berat, separuh menyesal kenapa aku harus meminjam lima buku sekaligus dari perpustakaan hari ini. Tapi bagai kesetanan, aku berlari menuju tempat yang Yasmin tunjukkan. Ruang K-5. Sebenarnya cukup aneh, kenapa Anya bisa pingsan di ruangan yang biasanya terkunci rapat itu. Apa mungkin dia tidak sengaja melihat hantu? Bodoh, padahal selain penakut, badannya lemah.
Tak kupedulikan sekitarku saat aku berlari naik ke lantai dua, tempat ruang kelas itu berada. Kepalaku pusing, telingaku berdenging dan meski tenagaku rasanya tiba-tiba terkuras, kakiku masih kupaksa melangkah tanpa mengurangi sedikitpun kecepatannya.
Tidak terlihat seorangpun yang kukenal saat aku tiba di lantai dua. Lorong yang dipagari oleh kelas-kelas tampak begitu kosong. Padahal kelas terakhir seharusnya baru berakhir. Bahkan Yasmin saja sudah berlari-lari begitu. Kusesali pilihanku untuk bolos kelas barusan hanya karena aku takut dijahili. Ya, menurut kalender di atas mejaku, hari ini--
"Surprise!"
--aku berulang tahun.
"H-ha?"
Lantunan lagu Happy Birthday terdengar diiringi tepukan riuh rendah. Tapi telingaku tak mampu menangkap suara apapun seiring dengan mataku yang terpaku. Di hadapanku seorang bidadari tengah tersenyum, dan momen berikutnya kurasakan jantungku yang sempat berhenti kembali berdetak. Sangat cepat.
"Happy birthday apanya? APANYA HAH? SIALAN KALIAN! HAMPIR AJA JANTUNGKU COPOT, TAHU?"
Dan tempat itu mendadak hening.
Aku nyengir lebar kemudian. "Ya sudah. Mana sini kadonya?"
____
"Za, berdiri Za."
Gimana bisa berdiri?
"Arza jangan beginiiiiiii."
Jangan begini apanya?
Yah, pada saat seperti ini, sempat-sempatnya aku berpikir serius terhadap omongan mereka. Pintar sekali sih. Kupegang kepalaku yang mulai terasa semakin berat sebelum kusadari pandanganku sudah mulai berkunang-kunang. Lihat sendiri kan, apa yang kutakutkan sekarang jadi kenyataan. Apa yang selama ini kuanggap candaan berbahaya, menjadi seriusan berbahaya pada diriku sendiri.
"Hei," kata-kata pertama yang keluar dari bibirku adalah panggilan terhadap mereka berdua. Buru-buru Ryan memegang pundakku. Matanya memandang iba.
"Ya? Kenapa Za?"
"Mana Anya?"
Pertanyaan singkatku kembali membuat tangis Yasmin pecah. Padahal mata gadis itu bengkak sempurna, menunjukkan bahwa setidaknya dia sudah menangis sejak lima belas menit yang lalu tanpa henti. Oke, aku mulai terdengar menyedihkan. Tapi tetap saja aku tak peduli. Saat seperti ini aku mana bisa peduli.
"Arza, Anya udah--"
"Mana Anya?"
"Arza...."
"ANYA MANA ANYA?"
Cepat aku berdiri, menyingkirkan tangan Ryan yang masih ada di bahuku. kularikan langkah menyusul tempat tidur yang belum jauh dan membuka jalan untukku sendiri, tepat di sebelah kepalanya yang tertutup kain putih. Kusibak benda itu jauh-jauh, dan kulihat wajahnya. Putih bersih. Memejam sempurna. Bibirnya mengatup, tanpa sedikitpun senyum. Dan tak akan pernah lagi tersenyum.
Anya.
"Hei," kutepuk-tepuk pipinya, membuat salah satu perawat laki-laki bereaksi. Segera dia memarahiku tapi tak kupedulikan. Sekali lagi kupukul pipinya, kali ini dengan kedua tanganku. "Anya, bangun Nya!" Panggilku putus asa. Tapi tetap tak ada jawaban. Di sisi lain lorong, tangisan Yasmin yang tadi pecah lagi kini membesar, nyaris menyerupai raungan. Tapi aku tuli--menulikan telingaku sendiri.
"Maaf Mas, tapi--"
"Anya kamu ga boleh mati! Kamu ga boleh ninggalin aku! Kamu sudah janji, Anya! Kamu sudah janji!"
Tidak ada lagi kalimat yang bisa kuucapkan. Lidahku kembali kelu. Sisa kata-kata yang tersimpan di otak dan hatiku kini diucapkan dalam bentuk lain. Air mata.
Padahal kamu sudah berjanji padaku. Lupakah?
____
"Oke, oke, kita jadian. Puas?"
Aku mengerjap tak percaya. Akhirnya setelah berkali-kali ditolak oleh gadis di hadapanku ini, akhirnya aku diterima juga. Kalau saja aku bisa salto, aku akan melakukannya sambil lari keliling lapangan sepuluh kali dan berteriak-teriak. Sayang selain aku tidak bisa salto, energiku mana cukup untuk melakukan hal konyol seperti itu. Lagipula, tidak nyambung. "Serius nih?" Tanyaku tak percaya. Pandanganku berbinar.
"Tapi," Anya memandangku sinis sambil dua tangannya masih terlipat di depan dada. "Janji padaku satu hal."
"Apapun itu," sahutku yakin. Apapun kondisinya, kebahagiaanku saat ini tak sebanding dengan apapun. Dan sekadar berjanji--bah, tidak sebanding. Silakan buat aku berjanji bahkan untuk membelikan sebongkah berlian. Dengan cara apapun juga akan kubelikan.
"Janji ya, Arzadika. Kamu tidak akan meninggalkan aku."
...
Itu saja?
Senyumku terkembang. Kutarik siku kanannya dan kutangkap telapaknya, menggenggamnya erat-erat kemudian. "Aku janji. Kamu juga, Tarrania, janji jangan pernah tinggalkan aku."
Hening sesaat.
"Anya?"
"...aku janji."
_____
Ya, kamu janji.
Dan salahku pura-pura tidak menyadari bahwa di balik punggungmu, dua jari tersilang. Janjimu sudah kau patahkan sejak awal. Tapi aku membohongi diriku sendiri, meyakinkan diri bahwa janjimu pasti kamu tepati.
Anya, kamu dengar aku?
Aku patah hati--lagi.
_______________________
Cerpen lawas ahaha. Akhirnya waktunya sudah tepat untuk mem-publish cerpen ini. Well, dedicated buat semua yang pernah berjanji, pernah menjanjikan, berusaha menepati, ataupun yang menyerah dan mematahkan. Sebelum terlambat, lebih baik janjinya ditepati ^^
Ditunggu komentarnya :)
Labels:
Broken Hearted,
Cerpen,
Curcol,
Galau,
Just So You Know,
Short Story
Thursday, December 1, 2011
Sing It, Gurl!
Well, cuma mau pamer (dan minta dihujat #plakk) video pas nyanyi di acara YG Family the Gathering Jogja kemarin :)):)) Yah, silakan dihujat~
Yang ^ itu video pertama.
Title: It Hurts (아파)
Title: It Hurts (아파)
Singer: 2NE1
Buat saya, ini lagu 2NE1 favorit saya sebenernya, untuk yang ballad. Tapi ternyata saya gagal nyanyiin lagu ini dengan apik dan pake ada acara lupa lirik segala. Plus seharusnya ada temen yang jadi backing vocal tai ternyata dia malah ga pegang lirik. Ah sial banget, jadi keliatan ga fokus =A= Yak, silakan dihujat.
Di ^ itu video kedua.
Title: You're My
Singer: Taeyang (BigBang)
Ini lagu Taeyang yang sejak pertama denger, selalu bikin gregetan. Berasa pengen cuddle sama pacar kalo denger lagu ini, terus tidur samping-sampingan di bawah bintang (cailah~). Sayang saya ga percaya diri untuk nyanyi tanpa lirik (padahal overall liriknya hafal TT^TT) jadinya keliatan kurang maksimal. Maaf ya~ Ini juga silakan dihujat.
Kkeut, itu aja. Selamat menghujat ya~ :3 Bbyeong~
Labels:
Debut,
Dream,
Just So You Know,
Meracau,
Minta Dihujat,
Sings
Friday, November 11, 2011
Hey Hey Debutante!
Halo! Akhirnya gue update blog lagi. Kali ini kayaknya gue cuma mau narsis dikit, ngasih tau sekali lagi ke semua orang bahwa gue, ehem, ehehe.
BERHASIL DEBUT DI PANGGUNG (jejejejeng! Eaaaa)
Jadi sebenernya acaranya udah lama ya, tanggal 6 November kemarin tepatnya. Ga lama? Ya, anggep aja lama #plakk Jadi setelah tergabung dengan Jjang Kewerr Parody, akhirnya sebutir Kacang kecil yang ga lupa pada kulitnya ini berhasil naik panggung (oke, kemaren sebenernya di lantai bukan panggung. But whatever. Center of attention will always considered as a stage on my eyes) dan ngedance! Muahahaha! Kapan terakhir gue ngedance di panggung, eh? SMA kelas 1. Dan itu pun modern dance awut-awutan ala anak SMA. Yah, lupakan. Masa lalu yang suram (?).
Kalo ditanya gue ngedance apa kemarin, mengingat acaranya adalah acara Gathering ELF Jogja untuk comeback-nya Super Junior, jadi gue ngedance lagu-lagunya Super Junior. Yah, gue gini-gini mantan ELF ya, jadi ngerti gitu sama SuJu. Dan engga, gue bukannya 'keluar' dari ELF gara-gara pindah fandom. Gue cuma not really in to K-Pop anymore. Kalopun iya gue pindah fandom, paling gue pindah ke Runners alias Running Man Lovers :P
Balik ke ngedance apa gue, well, kemarin gue salah satu dancer untuk lagu Super Girl-nya Super Junior M. Dan karena gue paling mini karena cewe sendiri (ga, ga, gue ga bikin hareem engga), jadilah gue dinobatkan sebagai Kawook alias Kacang Ryeowook :)) Dan berterima kasih jugalah gue sama si Wookie karena doi banyak nyanyi di lagu tersebut. Otomatis gue juga banyak ngeksis di barisan depan dong kkk. Jadi medley yang dibawakan oleh JKP Boys (and a girl actually, me. But well, being introduced as a boy wasn't that bad #heh) itu intro Neorago - Super Girl - Acha - dan intro plus outro Sorry Sorry :D Untuk video performance-nya, cari di facebook gue aja yak :D #males #plakk
Oh iya, lupa. Nih, foto JKP Boysdan gue yang lagi bikin hareem #heh
Oke deh, itu aja sharingnya. Tanggal 12 November 2011 alias besok gue juga mau ada manggung. Ngedance lagi dan (alhamdulillah) lolos babak penyisihan Singing Competition. Jadi habis joget-joget gue bakalan nyanyi wakaka. Doain ya Guys ^^
Kkeut, annyeong, BBYONG!
BERHASIL DEBUT DI PANGGUNG (jejejejeng! Eaaaa)
Jadi sebenernya acaranya udah lama ya, tanggal 6 November kemarin tepatnya. Ga lama? Ya, anggep aja lama #plakk Jadi setelah tergabung dengan Jjang Kewerr Parody, akhirnya sebutir Kacang kecil yang ga lupa pada kulitnya ini berhasil naik panggung (oke, kemaren sebenernya di lantai bukan panggung. But whatever. Center of attention will always considered as a stage on my eyes) dan ngedance! Muahahaha! Kapan terakhir gue ngedance di panggung, eh? SMA kelas 1. Dan itu pun modern dance awut-awutan ala anak SMA. Yah, lupakan. Masa lalu yang suram (?).
Kalo ditanya gue ngedance apa kemarin, mengingat acaranya adalah acara Gathering ELF Jogja untuk comeback-nya Super Junior, jadi gue ngedance lagu-lagunya Super Junior. Yah, gue gini-gini mantan ELF ya, jadi ngerti gitu sama SuJu. Dan engga, gue bukannya 'keluar' dari ELF gara-gara pindah fandom. Gue cuma not really in to K-Pop anymore. Kalopun iya gue pindah fandom, paling gue pindah ke Runners alias Running Man Lovers :P
Balik ke ngedance apa gue, well, kemarin gue salah satu dancer untuk lagu Super Girl-nya Super Junior M. Dan karena gue paling mini karena cewe sendiri (ga, ga, gue ga bikin hareem engga), jadilah gue dinobatkan sebagai Kawook alias Kacang Ryeowook :)) Dan berterima kasih jugalah gue sama si Wookie karena doi banyak nyanyi di lagu tersebut. Otomatis gue juga banyak ngeksis di barisan depan dong kkk. Jadi medley yang dibawakan oleh JKP Boys (and a girl actually, me. But well, being introduced as a boy wasn't that bad #heh) itu intro Neorago - Super Girl - Acha - dan intro plus outro Sorry Sorry :D Untuk video performance-nya, cari di facebook gue aja yak :D #males #plakk
Oh iya, lupa. Nih, foto JKP Boys
![]() |
| Emang ya yang paling ganteng tetep gue #heh |
Kkeut, annyeong, BBYONG!
Labels:
Debut,
Event,
Just So You Know,
Meracau
Sunday, October 2, 2011
Guess Who's the Birthday Girl ;))
Of course it's ME =))
Wow, it's October 2nd already. And it's my 20th October 2nd. Means I hit the '2-marks' already. My age now's multiple two of 10 =)) Okay, enough.
Haven't had such a cute birthday ever since, what, two years? I remember having such a lonely birthday last year, wandering around Jogja alone just like some kind of lost child or something. Ate some doughnut and stuffs--not really important stuffs. And guess what, without a boyfriend. Just like today, but darker. A lot more darker. Yea, you know what I mean.
Honestly speaking, I really really almost desperately want to have a boyfriend on my birthday. But who knows that spending 12 O'clock with friends is just... feel so great? Eventho there's no such things as a kiss on my left cheek or upper head from a boy I like (since he's busy with his newest job--hey, wait. I'm already heartbroken with him. Let's just... forget him) or even better, a boyfriend. Now I sound totally desperate, don't you think? I've been mentioning about 'wanna-hava-bf' since a week before my birthday and it's never happened. Okay, eventho my birthday hasn't coming to an end yet, but seriously, do you really think I can get a boyfriend less than 24 hours?
Yea, kick my butt, slap my cheek. I need to wake up.
Last year I can't afford any cake of my own but I ate two doughnuts and feel good enough. Today I also didn't have a cake but, seriously, have you ever tried the best ice cream and burger in the world on the same day? I have. Ice cream and burger with candles on it, and I made my wish then some awkward movement for saying 'happy birthday' (it seriously is awkward, but awkwardness is always cute, isn't it?) from all Jogja Runners crew that happened to be with me. All I have tasted last night is a cold chocolate birthday 'cake' that melts inside my mouth and every single bites gave me some kind of happiness. And the burger--I ate it alone, and that was the best I ever tasted.
I'm happy, and that's enough.
Let's just see what will happened today. There are more hours to spend as a birthday girl. Just, wish me luck, okay?
Last but not least,
Good morning and happy birthday, Me :)
Labels:
Birthday Girl,
Curcol,
Galau,
Meracau,
share
Sunday, September 11, 2011
And Here It Comes: The Last Day
Hai.
Ini hari terakhir gue di rumah loh.
Hari terakhir gue di rumah loh, setelah lebih dari sebulan di rumah loh.
Hari terakhir loh.
TERAKHIR LOH.
Okay, I might sound really desperate. It's true tho. I am desperate. Desperately won't leave the house once again and keeping around my parents here. Mama bakalan sendirian lagi dan anak-anak ceweknya yang doyan teriak-teriak resmi bubar kembali ke perantauan masing-masing. Yeap, tadi pagi adek gue Adhissa Qonita udah caw caw dari rumah dan kabarnya udah nyampe dengan selamat di kosan. Dan besok giliran gue yang berangkat, say goodbye to those peaceful memories that built the piece of me.
Saat-saat kayak gini gue selalu mikir. Apakah pilihan gue untuk merantau itu tepat, secara gue anak perempuan sekaligus anak sulung yang mereka miliki? Apakah benar gue memilih UGM untuk menyedot segala ilmu yang gue butuh untuk masa depan? Apakah yang gue lakukan ini masuk akal? Apakah gue anak babi? Oh yang terakhir engga.
Tapi setelah beberapa saat mikir, gue sadar. Gue udah dikasih sesuatu yang priceless dari mereka: Kepercayaan.
Mereka percaya ama gue, and I just ruined it completely. Yet I understand, gue seharusnya membayar jerih payah mereka sekuat tenaga gue, dan berhenti bertindak seenak jidat. Well, mungkin bakal sulit. Tapi gue bisa nyoba kan, walau Bokap bilang, 'jangan coba-coba. LAKUKAN!'
Gue tau itu sulit. Tapi lagi-lagi gue memikirkan kepercayaan yang mereka kasih ke gue. Yang musti gue emban dengan kebanggaan. Yang musti menjadi motivasi buat gue menjalin masa depan dari benang-benang kecil karena gue ga tau, hasil rajutan gue bakalan jadi produk gagal, sweater tebal, atau sweater tebal yang gagal (ini apadeh?). Dan lagi-lagi gue harus merajut itu sekuat tenaga gue. Karena semampu-mampunya gue, cuma gue yang bisa ngeluarin kemampuan itu. Ya toh?
Ah well. The tears has come.
Gue ngetawain Qoqon tadi pagi dan, yah, I feel so silly.
Bagaimanapun juga satu bulan setengah itu lebih dari cukup untuk membuat bond yang baru dengan Palembang, dengan rumah, dengan Papa, dengan Mama, dengan Abi, dengan Sabiq, bahkan dengan kamar dan guling dan kasur serta lantai. Kamar mandi dan lain sebagainya. Dengan boneka-boneka yang semakin lama semakin berdebu, dengan dinding bercorak sapi dan panggilan tiap pagi untuk membuka kamar karena Papa atau Mama mau ambil baju (yea, I've told y'all already bahwa kamar gue udah jadi lemari maha luas buat mereka). Sounds silly but those are true. Semua hal, kehidupan gue yang berbanding terbalik dengan Jogja di sini telah menciptakan ikatan baru, yang jujur aja, susah gue lepas.
Ikatan ini terlalu solid, dikunci kerinduan.
Tuhan, gue ga mau pergi, sumpah.
Tapi yah, gue ga boleh menyia-nyiakan kepercayaan mereka (lagi) dengan tidak meninggalkan rumah ini. Karena gue tau, mereka akan jauh lebih bahagia kalau gue pulang nanti dengan keberhasilan. Karena dari segala hal, investasi dan cinta mereka yang terbesar diberikan pada kami, anak-anaknya, di mana gue adalah salah satunya. Benar kan Ma, Pa?
I miss you Guys already, really.
And last but not least,
I'll miss you, Room.
I'll miss you, Guling bau gue yang penyet gue peluk mulu.
I'll miss you, Unlimited Internet.
I'll miss you, everything.
And I'm gonna miss you forever while I'm there. But I promise, I'll turn the hell into heaven someday. Please keep praying for me. Mom, Dad, I love you.
So, hey semuanya. Besok gue pulang. Jogja, I'm coming!! XDXD
Ini hari terakhir gue di rumah loh.
Hari terakhir gue di rumah loh, setelah lebih dari sebulan di rumah loh.
Hari terakhir loh.
TERAKHIR LOH.
Okay, I might sound really desperate. It's true tho. I am desperate. Desperately won't leave the house once again and keeping around my parents here. Mama bakalan sendirian lagi dan anak-anak ceweknya yang doyan teriak-teriak resmi bubar kembali ke perantauan masing-masing. Yeap, tadi pagi adek gue Adhissa Qonita udah caw caw dari rumah dan kabarnya udah nyampe dengan selamat di kosan. Dan besok giliran gue yang berangkat, say goodbye to those peaceful memories that built the piece of me.
Saat-saat kayak gini gue selalu mikir. Apakah pilihan gue untuk merantau itu tepat, secara gue anak perempuan sekaligus anak sulung yang mereka miliki? Apakah benar gue memilih UGM untuk menyedot segala ilmu yang gue butuh untuk masa depan? Apakah yang gue lakukan ini masuk akal? Apakah gue anak babi? Oh yang terakhir engga.
Tapi setelah beberapa saat mikir, gue sadar. Gue udah dikasih sesuatu yang priceless dari mereka: Kepercayaan.
Mereka percaya ama gue, and I just ruined it completely. Yet I understand, gue seharusnya membayar jerih payah mereka sekuat tenaga gue, dan berhenti bertindak seenak jidat. Well, mungkin bakal sulit. Tapi gue bisa nyoba kan, walau Bokap bilang, 'jangan coba-coba. LAKUKAN!'
Gue tau itu sulit. Tapi lagi-lagi gue memikirkan kepercayaan yang mereka kasih ke gue. Yang musti gue emban dengan kebanggaan. Yang musti menjadi motivasi buat gue menjalin masa depan dari benang-benang kecil karena gue ga tau, hasil rajutan gue bakalan jadi produk gagal, sweater tebal, atau sweater tebal yang gagal (ini apadeh?). Dan lagi-lagi gue harus merajut itu sekuat tenaga gue. Karena semampu-mampunya gue, cuma gue yang bisa ngeluarin kemampuan itu. Ya toh?
Ah well. The tears has come.
Gue ngetawain Qoqon tadi pagi dan, yah, I feel so silly.
Bagaimanapun juga satu bulan setengah itu lebih dari cukup untuk membuat bond yang baru dengan Palembang, dengan rumah, dengan Papa, dengan Mama, dengan Abi, dengan Sabiq, bahkan dengan kamar dan guling dan kasur serta lantai. Kamar mandi dan lain sebagainya. Dengan boneka-boneka yang semakin lama semakin berdebu, dengan dinding bercorak sapi dan panggilan tiap pagi untuk membuka kamar karena Papa atau Mama mau ambil baju (yea, I've told y'all already bahwa kamar gue udah jadi lemari maha luas buat mereka). Sounds silly but those are true. Semua hal, kehidupan gue yang berbanding terbalik dengan Jogja di sini telah menciptakan ikatan baru, yang jujur aja, susah gue lepas.
Ikatan ini terlalu solid, dikunci kerinduan.
Tuhan, gue ga mau pergi, sumpah.
Tapi yah, gue ga boleh menyia-nyiakan kepercayaan mereka (lagi) dengan tidak meninggalkan rumah ini. Karena gue tau, mereka akan jauh lebih bahagia kalau gue pulang nanti dengan keberhasilan. Karena dari segala hal, investasi dan cinta mereka yang terbesar diberikan pada kami, anak-anaknya, di mana gue adalah salah satunya. Benar kan Ma, Pa?
I miss you Guys already, really.
And last but not least,
I'll miss you, Room.
I'll miss you, Guling bau gue yang penyet gue peluk mulu.
I'll miss you, Unlimited Internet.
I'll miss you, everything.
And I'm gonna miss you forever while I'm there. But I promise, I'll turn the hell into heaven someday. Please keep praying for me. Mom, Dad, I love you.
So, hey semuanya. Besok gue pulang. Jogja, I'm coming!! XDXD
Subscribe to:
Posts (Atom)
