Sunday, December 21, 2008

Saat Semua Mengira Pergi Adalah Jalan Terbaik

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you


Ehm, lagu ini kok kena banget ya, buat gue? Biar gue jawab sendiri. Ini dikarenakan nyaris semua orang yang (menurut gue) berharga buat gue (gak peduli tuh orang nganggep gue temen, adik, keponakan, pembokat, suruhan, atau babu sekalipun) pergi satu-satu dari hidup gue. Okelah, rata-rata dari mereka mengemukakan alasan yang sangat-sangat jelas sekali: sibuk. Rata-rata mereka adalah keluarga gue di networld (NW). Baru-baru ini, asrama gue di HPI, yaitu Hufflemungo the Rumah Sakit Jiwa juga kehilangan (lagi) salah satu penghuninya. Mungkin tingkat kesarapannya udah berkurang seiring lamanya dia menghuni bangsal penyembuhan (yang bagi gue malah jadi bangsal yang bikin gue tambah sarap). Pria muda beringus (alias PRIMUS *dijitak*) itu menamakan dirinya sendiri sebagai:

Vahn


(Backsound: petir menyambar, jeritan gadis perawan, tawa nenek lampir, ringkikan kuda, lenguhan sapi, kukur ayam, eongan-- *dibekep*)

Sungguh tiada dinyana sekali kepergian abang, uwak, oom, nek nang, dan puyangnya nek nang (jaelah, tua amat lu), serta baru-baru ini menyebut dirinya Pak De (ini seriusan, ente sendiri yang merasa tua), meninggalkan Hufflemungo dengan sama sekali tidak meninggalkan jejak berdarah (yaiyalah! Emangnya korban bacokan?). Gue yang emang udah lama gak gaul di Hufflemungo *sungkemin anak Huffle yang kangen ama gue* *ditereakin: 'Sapa juga yang kangen ama elu, Cang? Gue mah najisss!'*, mendapatkan berita ini dan sukses mangap tanpa bisa dihindari. Betapa enggak, gue yang setelah sekian lama gabung di Hufflemungo (lama palalu peyang? Setahun aja belum nyampe) sudah mulai mengakrabkan diri dengan abangnya (atau TTMnya) Olip ini. So, jangan salahin gue kalo gue gak bisa nahan air mata. Gue bahkan sempet bikin puisi (yang akhirnya dipajang ama Bos di blog Hufflemungo<<--klik link di atas) buat dia yang menunjukkan bahwa air mata gue pun luruh karena dia pergi.

So, gue kembali mengutip judul postingan gue kali ini. Saat semua mengira pergi adalah jalan terbaik, gue bertanya-tanya sendiri di dalam hati dan di dalam kamar mandi dan sambil menunaikan tugas suci: apakah statement itu benar adanya? Gue sendiri enggak ngerti jalan pikiran orang lain. Karena kalo gue ngerti pasti gue udah buka warung tenda kecil yang melayani pembacaan isi hati pasangan kalian, apakah dia benar-benar selingkuh atau tidak *evil grin*. Gak, gue boong doang. Yang pasti ya, gue sebagai anak manusia normal dengan kecantikan melebihi batas normal *digetok*, gak bisa baca pikiran orang. Jadi, gue sendiri berusaha maklum dengan keputusan orang itu. Pasti mereka memiliki suatu alasan kenapa mereka pergi atau apapunlah yang mendukung keputusan mereka, gue menguatkan hati untuk rela. Karena yeah, gue sendiri juga sekarang dalam masa pencutian diri (walaupun gak seekstrem menghapus akun). Alasan gue, jelas karena gue udah kelas 12 dan perlu waktu untuk menghadapi Ujian Nasional *kais tanah*.

Jadi, sama halnya dengan apa yang gue lakukan, seorang Yovano Nalande (nama lengkapnya Pak De Vahn <<--CMIIW) pasti memiliki alasan yang didukung kenyataan. Kenapa doi mengundurkan diri dari HPI tentunya karena kehidupan nyata (alias real world) membutuhkan kontribusi lebih besar. Mungkin dalam menghentikan pembajakan melanjutkan sekolah, kerja, atau merajut masa depan yang indah *ngiler*. Nah, jadi kalo gue pribadi, gue lebih fine dengan pilihan ini dan turut berdoa agar pilihan ini jadi yang terbaik. Hahah, bunuh aja gue silakan. Gorok dan tinggalkan jejak berdarah yang tidak ditinggalkan oleh Abang Vahn *diselepet*. Bukannya gue gak pengen Abang kita bersama itu balik lagi ke Hufflemungo. Tapinya gue bener-bener gak mau maksain dia balik, atau membuat dia terpaksa balik karena mendapat kesan 'semua bakalan ikut berenti kalo dia berenti'. Oh, come on! Kita udah bukan anak tiga tahun dan Vahn bukanlah bapak orang (seenggaknya doi belum punya anak) yang demen mengayom dan mau bahu membahu bantu membantu ngebersihin popok kita *yuck*.

Soooo, biarkanlah Pak De kita itu berlalu dan terimalah kepergiannya dengan hati lapang *ditabok karena dikira si Pak De udah mampus*. Karena doi cuti dari NW juga karena kebutuhannya di RW gak bisa ditinggalkan *lambai-lambai sapu tangan putih dengan air mata dan ingus berleleran*.

Good bye brother Vahn. We always love you and gonna miss you so much *lempar sepatu perpisahan*.

No comments: